Mengapa Ibu Mertua dan Menantu Perempuan Jarang Akur?

Posted by Unknown Jumat, 04 April 2014 0 komentar

Ilustrasi

Hubungan buruk antara ibu mertua dan menantu wanitanya acap kali menjadi perdebatan yang menarik untuk dibahas. Sebab, tidak banyak perempuan yang memiliki hubungan yang hangat dengan ibu mertua mereka.

Ieda Purnomo Sigit Sidhi, SPsi mengungkapkan, ketidakharmonisan tersebut timbul karena di antara kedua perempuan di antara satu pria menciptakan persaingan. Mereka saling mengukur siapa yang lebih disayangi, dicintai, atau diperhatikan oleh pria yang menjadi suami (si istri) atau anak (si mertua).

Ieda menambahkan, secara garis besar, hal itu disebabkan oleh tiga hal: cinta, perhatian, dan finansial. Pokoknya, segala hal yang dibutuhkan dalam hidup. 

"Yang perlu diingat, kondisi di Indonesia berbeda dengan di India. Di India, posisi menantu perempuan kalah oleh ibu mertuanya. Soalnya di sana tidak ada sistem kasta dan uang mahar. Sementara budaya itu tidak ada di sini," tuturnya.

Karena itu, Ieda menyarankan, untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya aturan main sudah ditetapkan serba jelas sedari awal. Sebelum menikah, calon pasangan harus tahu secara jelas dan bisa mengenal masing-masing keluarga sedalam-dalamnya. Memang, hal ini tidak bisa menjamin 100 persen takkan muncul konflik. Namun, setidaknya bisa meredakan perbedaan yang ada.


Baca Selengkapnya ....

Perceraian Berakibat Buruk bagi Kesehatan Pria

Posted by Unknown 0 komentar

Ilustrasi

Perceraian ternyata tak hanya berefek buruk bagi kesehatan mental dan emosi, tapi juga fisik seseorang. Kondisi ini tidak cuma rentan dialami wanita, tapi juga pria.


Sebuah riset di Amerika mengatakan, pria yang hidup single atau mengalami perceraian, berpeluang 39 persen lebih tinggi mengalami kematian dini. Angka ini dibandingkan dengan pria yang ada dalam ikatan pernikahan.

Kondisi ini mungkin disebabkan pria yang hidup single lebih berpeluang menjalankan gaya hidup atau perilaku seks berisiko. Perilaku ini lambat laun mengancam kesehatan fisik dan mentalnya.
 
Sebuah studi kasus oleh Dr. Daniel Felix dari University of Nebraska dan dimuat dalam Journal of Men's Health mengungkapkan pentingnya para dokter untuk mengenali problem kesehatan kaum pria yang dipicu oleh perceraian.

Riset ini merupakan kajian terhadap kasus yang dialami seorang responden pria berkulit putih usia 45 tahun yang bertahan dari perceraian.

Setelah perceraian, pria ini mengunjungi dokter keluarga setelah 10 tahun tidak memeriksakan diri. Ia datang dengan keluhan pola tidur buruk, dan masalah perut yang tidak kunjung tuntas. Pria ini juga melaporkan keranjingan minum bir dan mulai membenci pekerjaannya. Sebagai karyawan level menengah di sebuah bank lokal, pria ini mulai terganggu dengan atasan dan teman-temannya.

Sehubungan dengan perceraian yang dialami, pria ini juga melaporkan keterbatasan akses yang dialami dalam menemui anak-anaknya. Padahal, ia  sangat membutuhkan dukungan anak-anaknya. Pria ini juga mengeluhkan mantan istrinya yang seolah menjauhkan ia dari semua teman-teman yang dimiliki saat masih menjadi pasangan.

Peneliti melaporkan, kondisi fisik pria ini tampak biasa saja meski pun ia mengalami sedikit pembengkakan pada liver dan tubuhnya yang kegemukan.  Namun sebaliknya, peneliti mengaitkan kondisi penyakit yang dialami pria ini dengan gejala depresi yang berlanjut dengan kecemasan dan stres akibat perceraian.

Peneliti menyarankan para dokter untuk melakukan pengobatan pada gejala-gejala psikologis akibat perceraian, dan bukannya merekomendasikan perbaikan nutrisi, olahraga, dan pola tidur. Para pria korban perceraian juga wajib mengikuti program terapi kecanduan alkohol dan zat terlarang. Selain itu, mereka juga harus mendapat rujukan dari tenaga medis untuk berobat para konselor, profesional kesehatan jiwa, atau kelompok dukungan perceraian.

Peneliti menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut guna melihat dampak perceraian bagi kesehatan pria. Professor Ridwan Shabsigh dari Cornell University, Amerika Serikat mengatakan, temuan ini menjadi dasar penyusunan diagnosa dan panduan terapi kesehatan bagi para pria korban perceraian.

Riset ini sekaligus membuka sisi lain pria, yang sering dikesankan sebagai sosok kuat, tabah, dan lebih kebal pada trauma dibanding wanita.

"Faktanya, pria sangat terpengaruh dengan trauma psikologis dan peristiwa buruk dalam kehidupan seperti perceraian, kebangkrutan, perang, dan kematian. Penelitian segera sangat dibutuhkan untuk menyelidiki prevelensi dan dampak perceraian bagi kesehatan pria," kata Shabsigh yang juga Presiden International Society of Men's Health.



Baca Selengkapnya ....

Mengapa Pria Sebaiknya Menikah pada Usia 25, Wanita 21?

Posted by Unknown 0 komentar

Ilustrasi menikah.

Menikah berarti siap menjadi orangtua tidak sekadar 1-2 tahun, tetapi seumur hidup. Karenanya, untuk menghadapi kondisi tersebut, seseorang memerlukan kesiapan mental yang tangguh. Hal tersebut yang mendasari usia pernikahan minimal 21 tahun bagi wanita, dan 25 tahun bagi pria.

“Usia memang tidak menjadi dasar mutlak kesiapan mental. Namun dengan batas tersebut diharapkan pengalaman dan kesiapan mental lebih baik, dibanding usia yang lebih muda. Selain tentunya kesiapan dari aspek medis,” kata psikolog Ana Surti Ariani dalam kelas parenting New Parents Academy sesi Psikologi Pernikahan, Minggu (16/3/2014). 

Siap menjadi orangtua

Bila pasangan menikah sebelum usia 21 dan 25 tahun, Ana menyarankan keduanya menunda memiliki anak. Dengan penundaan tersebut keduanya bisa saling menyusun pola pendidikan untuk anaknya kelak. Keduanya juga bisa menyiapkan mental menghadapi proses tumbuh kembang anak. Selama penundaan, calon orangtua juga bisa menentukan pola pengasuhan yang hendak diterapkan pada anaknya.

Parentingadalah pilihan dan orangtua bisa menentukannya dengan berbagai pertimbangan. Dengan kesiapan mental, diharapkan orangtua tahu bagaimana efek pengasuhan tersebut pada anaknya,” tutur Ana.
 
Bila mengetahui efek penerapan parenting maka orangtua tidak akan asal pilih. Orangtua juga tidak akan menerapkan pengasuhan hanya karena terbiasa. Selanjutnya orangtua akan menerapkan keputusan tersebut dengan benar. Tentunya orangtua juga memasukkan lingkungan sekitar dalam pertimbangan parentingyang dilaksanakan, misal keluarga dan asisten rumah tangga.

Siap berkorban dan lebih percaya diri

Selain memilih pola parenting, kesiapan mental akan membimbing calon orang tua mempersiapkan "pengorbanan" yang harus dilakukan. Misalnya mengorbankan waktu yang tadinya lebih banyak untuk dirinya untuk selalu memprioritaskan anaknya. Kesiapan mental juga menyebabkan orangtua selalu percaya diri dalam mengambil keputusan.
 
“Rasa percaya diri inilah yang menyebabkan orangtua tidak mudah kalah, sehingga tidak mengabulkan apapun yang diminta anak. Hal ini memungkinkan pengasuhan selalu dalam pola yang sudah ditetapkan. Percaya diri sekaligus mencegah orangtua menjadi permisif pada anak,” tutur Ana.

Siap memahami anak

Menjadi orangtua, kata Ana, merupakan keharusan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan. Keterampilan memungkinkan orangtua selalu bisa berkomunikasi, dan memahami apa yang dirasakan anak.
 
Yang tak kalah penting, kematangan mental memudahkan orangtua menerima pilihan anak ketika dewasa. Meski tak sesuai rencana awal, orangtua tetap harus memastikan anaknya bahagia dengan jalan yang dipilihnya. Dengan cara ini, anak akan bisa menjalani kehidupannya dengan baik ketika beranjak dewasa.
 
“Sampai kapanpun kita adalah orangtua dari seorang anak. Tugas orangtua adalah menyediakan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Selanjutnya orangtua harus berlapang dada menerima keputusan anak, walau tak sesuai harapannya,” kata Ana.

Sumber: kompas.com

Baca Selengkapnya ....

Penggunaan Keliru, Sabun Antibakteri Justru Berdampak Negatif

Posted by Unknown Kamis, 03 April 2014 0 komentar

Ilustrasi

Sabun antibakteri kini sudah menjadi produk yang tersedia hampir di setiap rumah. Sayangnya, penggunaan sabun antibakteri di rumah ternyata tak efektif membunuh kuman dan justru berdampak negatif. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan produk antibakteri secara keliru.

Dalam dua dekade terakhir, jumlah produk yang mengandung zat antimikroba triklosan dan trikloarban meningkat cepat. Saat ini jumlahnya diperkirakan mencapai 2.000 jenis produk. Produk antibakteri tersebut meliputi sabun, detergen, pasta gigi, pakaian, bahkan dot bayi.

Sebagai akibatnya, banyak orang kini semakin sering terpapar zat kimia ini. Menurut Rolf Halden, direktur Center for Environmental Security di Arizona State University, tiga perempat orang Amerika terdeteksi memiliki kadar triklosan di urin mereka.

Produk antibakteri sebenarnya efektif membunuh mikoorganisme di rumah sakit dan tempat layanan kesehatan lain. Pasta gigi yang mengandung triklosan juga diketahui membantu orang yang menderita penyakit gusi gingivitis.

Namun menurut Halden, sebagian besar produk antibakteri yang digunakan di rumah tidak lebih bermanfaat dibandingkan dengan sabun biasa.

Berkurangnya manfaat sabun antibakteri dalam membunuh kuman ini antara lain karena penggunaan yang keliru. Agar efektif membunuh kuman, seseorang harus mencuci tangan mereka dengan produk antibakteri sekitar 30 detik. Tapi penelitian menunjukkan, rata-rata orang mencuci tangan hanya selama 6 detik.

Selain itu, penelitian menunjukkan mikroba ternyata mudah beradaptasi dengan zat kimia ini sehingga memicu resistensi antibiotik yang sedianya merupakan obat untuk mengatasi infeksi. Beberapa studi pada hewan juga menunjukkan zat kimia ini memengaruhi hormon dalam tubuh.

Untuk mencegah cara penggunaan yang keliru dan dampak negatif yang ditimbulkannya, badan pengawas obat dan makanan AS (FDA) mempertimbangkan untuk melarang zat kimia antibakteri dari produk pembersih tubuh sehari-hari kecuali pihak produsen bisa membuktikan zat kimia ini aman dan efektif. Bahan kimia triklosan juga nantinya hanya bisa dibeli dengan resep.



Baca Selengkapnya ....

Ingin Orgasme Lebih Dahsyat? Lakukan "Foreplay" Lebih Lama ..

Posted by Unknown 0 komentar


Ilustrasi

Definisi hubungan seksual yang memuaskan adalah ketika Anda dan pasangan bisa mencapai orgasme. Banyak taktik untuk mencapai orgasme, tetapi hal sederhana yang sering dilupakan adalah permainan awal atau foreplay.

Foreplay atau sesi pemanasan bertujuan untuk membangkitkan gairah bercinta. Ibarat makan, selera bisa timbul karena bentuk makanannya, warna, rasa, dan juga cara penyajiannya. Demikian pula halnya dengan bercinta.

Hal tersebut berarti Anda perlu memperhatikan kondisi fisik dan psikis untuk membuatnya tergoda. Ketahui apa yang bisa dengan cepat membangkitkan hasratnya. Misalnya jika Anda memakai lingerie tertentu, mandi bersama, saling memberi pijatan, atau kata rayuan dan pujian di sela-sela acara berciuman.

Usaha yang kita lakukan di sesi pemanasan ini bukan hanya akan membangkitkan gairah bercinta tapi juga bisa mendatangkan sensasi lebih lama ketika orgasme datang.

Sebuah penelitian yang dilakukan tim dari McGill University di Kanada membuktikan hal tersebut. Dalam sebuah penelitian terhadap 76 pria dan wanita yang diminta melakukan masturbasi di sebuah laboratorium khusus, para peneliti memasang kamera pemindaian panas untuk mengukur tingkat gairah para partisipan.

Tingkat suhu mereka diukur sebelum terangsang, setelah gairah muncul, sesaat sebelum klimak, sesaat setelah orgasme, dan 15 menit setelah orgasme.

Hasilnya, suhu tubuh baik pria dan wanita meningkat saat mereka merasa terasang. Tidak mengherankan memang, tetapi ketika pria mencapai ejakulasi suhu tubuh mereka dengan cepat turun. Sebaliknya dengan para wanita setelah mereka orgasme. Hal ini bisa mendandakan puncak kenikmatan seksual mereka berlangsung lebih lama.

Semakin lama mereka mendapatkan foreplay, semakin lama puncak kenikmatan seksual yang dirasakan. Hasil penelitian ini bisa mengingatkan Anda dan pasangan tentang pentingnya melakukan sedikit usaha lebih di sesi pemanasan agar orgasme yang dirasakan lebih hebat. Hubungan suami istri pun akan lebih mesra.


Baca Selengkapnya ....

Waspada Gunakan WiFi di Area Publik

Posted by Unknown Senin, 31 Maret 2014 0 komentar

Europol meminta pengguna internet mengubah kebiasaan.

Informasi sensitif sebaiknya tidak dikirim melalui koneksi wi-fi di area publik untuk mencegah pencurian data oleh peretas, demikian peringatan otoritas keamanan internet Eropa.

Troels Oerting, kepala pusat kejahatan internet Eropa, mengatakan kepada Dan Simmons dari BBC bahwa pengguna internet sebaiknya hanya mengirim data pribadi melalui jaringan yang mereka percayai.

Ia mengatakan peringatan itu dimotivasi oleh meningkatnya serangan melalui wi-fi di area publik.

Europol membantu sejumlah negara mengatasi serangan seperti itu, kata Oerting.

Data curian

"Kami telah melihat penyalahgunaan wi-fi untuk mencuri informasi, identitas atau kata kunci dan uang dari pengguna yang menggunakan koneksi publik atau wi-fi tidak aman," kata dia.

"Kita harus mengajari pengguna bahwa mereka tidak boleh membahas informasi sensitif saat sedang menggunakan internet melalui wi-fi yang tidak aman.

"Mereka harus melakukannya dari rumah, dimana jaringan wi-fi dipastikan aman. Tapi jika anda berada di warung kopi anda jangan mengakses bank atau melakukan apa pun yang melibatkan transfer informasi sensitif."

Oerting mengatakan peretas dan pencuri data tidak menggunakan teknik canggih tapi memperdaya orang agar menggunakan koneksi wi-fi yang seolah-olah berasal dari warung kopi atau restoran.

Sumber: BBC Indonesia

Baca Selengkapnya ....

Tiket

Popular Posts

LAYANAN TIKET PESAWAT MURAH support SENI BERBELANJA DI RUMAH - Original design by Bamz | Copyright of Berbagi Berita Terkini.